Senin, 26 Desember 2011

Model Pembelajaan Kooperatif Tipe STAD


KATA PENGANTAR

            Pertama-tama kami mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena hanya dengan bimbingan dan petunjuk-Nya sehingga dapat diselesaikannnya penyusunan makalah yang berjudul “MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD” ini. Shalawat serta salam tak lupa pula kami haturkan kepada Nabiullah Muhammad SAW.
Makalah ini disusun sebagai tindak lanjut dari pengembangan materi Model Pembelajaran Matematika dan Pelaksanaannya sehingga lebih mudah untuk dipahami. Hal ini dianggap penting karena pada dasarnya seiring dengan terus berkembangnya dunia kependidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kebutuhan akan literatur kependidikan terus bertambah.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Model Pembelajaran Matematika dan semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
            Kami menyadari betul bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Akhirnya, sekecil apapun sumbangan yang mungkin dapat diberikan, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat.



Palu,    Maret 2010

      Tim Penyusun





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                                                                              i                         
KATA PENGANTAR                                                                                            ii                        
DAFTAR ISI                                                                                                          iii            
BAB I       PENDAHULUAN                                                                                                                      
A.    Latar Belakang                                                                                 1                        
B.     Rumusan Masalah                                                                            2                        
C.     Tujuan Penulisan                                                                              2                        
D.    Manfaat Penulisan                                                                           2                               
BAB II      PEMBAHASAN                                                                                                                                 
A.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif                                    3

B.     Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD                5                                
C.     Komponen Utama Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD               6

D.    Teori-Teori yang Berkaitan dengan Pembelajaran Kontekstual       9             
E.     Penerapan Komponen Pembelajaran Kontekstual                          12
BAB III    PENUTUP
A.    Kesimpulan                                                                                     18                                   
B.     Saran                                                                                               19                       
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa (Widyantini Th, 2006:1).
Tujuan pendidikan matematika pada kurikulum tingkat satuan pendidikan  (KTSP) pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang dipelajari di kelas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam belajar pengetahuan lain.  Oleh sebab itu, dalam pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi dunia nyata (contextual problem).  Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika
Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada. Dari berbagai macam tipe model pembelajaran salah satunya adalah tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions/ Divisi tim-prestasi siswa) yang dikembangkan oleh Slavin dkk.
Pada paket pembinaan penataran ini akan disampaikan suatu model pembelajaran kooperatif (Tipe STAD) yang berpotensi membuat siswa sebagai pusat pembelajaran. Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah dari kelompok kami. Sehingga setelah itu pembelajar diharapkan dapat memahami salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran tipe STAD.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual yang dapat meningkatkan pemahaman siswa disekolah.

C. TUJUAN
Dengan memperhatikan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD  dengan pendekatan kontekstual yang dapat meningkatkan pemahaman siswa disekolah.

D. MANFAAT
Melalui penyusunan makalah ini maka didapat manfaat sebagai berikut
1. Bagi siswa, diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran disekolah.
2.Bagi guru, memberi pengalaman dan alternatif lain bagi guru matematika yang terlibat dalam pembelajaran ini  baik dari segi teoritis maupun dari pelaksanaan pembelajaran kontekstual.
3. Bagi sekolah, dapat memberikan masukan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pengajaran matematika di kelas.

 
BAB III
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Ada beberapa definisi tentang belajar kooperatif yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan yang secara redaksional berbeda namun hakikatnya sama. Definisi belajar kooperatif yang telah dirumuskan oleh Newman dan Artzt (1990:448) (dalam Usman H.B,2004:133) yaitu: “Cooperatif learning is an approach that involves a small group of learners working together as a tim to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal”). “Pembelajaran kooperatif adalah sebuah pendekatan yang melibatkan sebuah grup kecil dari pembelajar yang bekerja bersama-sama sebagai sebuah tim untuk memecahkan sebuah masalah, melengkapi sebuah tigas, atau mencapai tujuan umum”.
Cooperative learning is one of the most widespread and fruitful areas of theory, research, and practice in education. Reviews of the research, however, have focused either on the entire literature which includes research conducted in noneducational settings or have included only a partial set of studies that may or may not validly represent the whole literature. There has never been a comprehensive review of the research on the effectiveness in increasing achievement of the methods of cooperative learning used in schools.
Belajar kooperatif adalah salah satu yang paling luas dan subur bidang teori, penelitian dan praktik dalam pendidikan. Ulasan penelitian, bagaimanapun, telah berfokus pada literatur komprehensif mencakup penelitian yang dilakukan di noneducational pengaturan atau hanya termasuk bagian dari studi yang mungkin atau mungkin tidak secara sah mewakili keseluruhan literatur. Belum pernah ada kajian yang komprehensif penelitian mengenai efektivitas dalam mencapai pembelajaran kooperatif metode yang digunakan di sekolah meningkat.
An extensive search found 164 studies investigating eight cooperative learning methods. The studies yielded 194 independent effect sizes representing academic achievement. All eight cooperative learning methods had a significant positive impact on student achievement. When the impact of cooperative learning was compared with competitive learning, Learning Together (LT) promoted the greatest effect, followed by Academic Controversy (AC), Student-Team-Achievement-Divisions (STAD), Teams-Games-Tournaments (TGT), Group Investigation (GI), Jigsaw, Teams-Assisted-Individualization (TAI), and finally Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
Pencarian ekstensif ditemukan 164 studi menyelidiki delapan metode pembelajaran kooperatif. Studi itu ukuran 194 efek independen yang mewakili prestasi akademik. Semua metode pembelajaran kooperatif delapan memiliki dampak positif pada prestasi siswa. Jika dibandingkan dengan dampak pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran kompetitif, Belajar Bersama (LT) telah dipromosikan efek terbesar, diikuti oleh kontroversi akademik (CA), siswa-Team-Achievement-Divisi (STAD), tim-games-turnamen ( TGT), sebuah kelompok riset (GI) Jigsaw, peralatan-Assisted-individualisasi (TAI) dan akhirnya kooperatif terpadu membaca dan komposisi (circ).
When the impact of cooperative lessons was compared with individualistic learning, LT promotes the greatest effect, followed by AC, GI, TGT, TAI, STAD, Jigsaw, and CIRC. The consistency of the results and the diversity of the cooperative learning methods provide strong validation for its effectiveness.
Ketika efek dari pembelajaran kooperatif individualistik dibandingkan dengan belajar, LT mempromosikan efek terbesar, disusul oleh AC, GI, TGT, TAI, STAD, Jigsaw, dan circ. Konsistensi hasil dan keragaman metode pembelajaran kooperatif memberikan validasi kuat untuk efektivitas.(http://www.co-operation.org/pages/cl-methods.html)
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang secara sistematis mengembangkan interaksi antar sesama siswa dan memaksimalkan belajar siswa baik secara individu maupun secara kelompok.  Menurut Johnson & Johnson  (Usman H.B, 2004:134), pembelajaran kooperatif tidak semata-mata meminta siswa bekerja secara kelompok dengan cara mereka sendiri.  Siswa yang bekerja dalam kelompok mungkin akan menunjukkan hasil belajar yang rendah karena hanya beberapa siswa saja yang bekerja keras dalam menyelesaikan materi tugas sedangkan siswa lainnya bersikap pasif.  Agar tidak terjadi hal demikian, Abdurrahman & Bintoro (Nurhadi & Senduk, 2003:60) (dalam Daiyatushalihah, 2007:11) menyatakan bahwa terdapat elemen dalam pembelajaran kooperatif yang harus diperhatikan oleh seorang pengajar yaitu adanya saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual dan keterampilan menjalin hubungan antar individu.

B. PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
       Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif yaitu metode STAD (Student Teams Achievement Divisions), metode Jigsaw, metode GI (Group Investigation) dan metode struktural.  Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode STAD.  Menurut Slavin (Zainuddin, 2002:9) (dalam Daiyatushalihah, 2007:12) bahwa: ”model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model yang bersifat umum, sehingga dapat digunakan untuk bidang studi dan semua tingkatan, serta merupakan model yang paling sederhana dan mudah dilaksanakan”.
In Student Teams-Achievement Divisions (STAD) (Slavin, 1994), Students are assigned to four-member learning teams that are mixed in performance level, gender, and ethnicity. The teacher presents a lesson, and then students work within their teams to make sure that all team members have mastered the lesson. Finally, all students take individual quizzes on the material, at which time they may not help one another. Students’ quiz scores are compared to their own past averages, and points are awarded on the basis of the degree to which students meet or exceed their own earlier performance.
Di dalam tim-prestasi Siswa divisi (STAD) (Slavin, 1994) (dalam Sutrisni Andayani, 2007:2), Siswa ditugaskan untuk mempelajari empat anggota tim yang dicampur dalam tingkat kinerja, gender dan etnisitas . Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Akhirnya, semua siswa mengambil tes individu pada bahan, ketika Anda tidak dapat saling membantu. Skor kuis siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka yang lalu, dan poin-poin diberikan pada dasar persetujuan yang siswa jumpai atau lewati dipenampilan mereka yang lebih awal.
Untuk model ini siswa ditempatkan dalam tim/kelompok belajar beranggotakan empat orang sedemikian sehingga setiap tim terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang (rata-rata), dan rendah atau variasi dari jenis kelamin, kelompok ras, dan etnis, atau kelompok sosial lainnya. Pengajar terlabih dahulu menyajikan materi baru dalam kelas, kemudian anggota tim berlatih dan mempelajari dan berlatih untuk materi tersebut dalam kelompok mereka yang biasanya bekerja berpasangan. Mereka melengkapi lembar kerja, biasanya satu sama lain, membahas masalah dan mengerjakan latihan. Tugas-tugas mereka itu harus dikuasai oleh setiap anggota kelompok. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja siswa, dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok. Pada akhirnya guru memberikan kuis yang harus dikerjakan siswa secara individu.
Setiap anggota tim harus memberikan skor yang terbaik kepada timnya dengan menunjukan peningkatan kinerja dibandingkan dengan sebelumnya atau dengan mencapai nilai sempurna. Tim yang tanpa memiliki anggota-anggota yang meningkat nilainya dan menghasilkan skor yang sempurna tidak akan menang atau mendapat penghrtgaan.

C. KOMPONEN UTAMA PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
Menurut Slavin (1995) (dalam Herdian, 2009:1)  mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri 5 komponen utama, yaitu (1) penyajian kelas, (2) belajar kelompok, (3) tes, (4) skor peningkatan individu, dan (5) penghargaan kelompok.  Berikut uraian setiap komponen pembelajaran kooperatif tipe STAD:
(1)     Penyajian Kelas
         Penyajian kelas maksudnya pemberian informasi pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan siswa dalam mengembangkan konsep materi yang dipelajari pada kegiatan aktivitas kelompok.
         Beberapa hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyajian materi pembelajaran adalah sebagai berikut.
    Materi pelajaran dikembangkan sesuai dengan apa yang dipelajari siswa dalam kelompok.
    Pemahaman siswa sesering mungkin dikontrol dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
    Memberitahukan kepada siswa bahwa pembelajaran kooperatif menekankan belajar adalah memahami makna bukan hafalan.
(2)     Belajar Kelompok
         Agar implementasi pembelajaran model kooperatif berlangsung efektif, maka tim atau kelompok harus dibentuk lebih awal.  Anggota tim terdiri atas empat atau lima orang yang memiliki kemampuan yang heterogen dan etnis yang beragam.  Ukuran kelompok yang ideal adalah empat orang, karena sangat memudahkan ketika akan menerapkan strategi berpasangan dan kegiatan pengamatan terhadap aktivitas kelompok akan menjadi lebih ringan dan terpusat.  Ketika siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing guru harus selalu memonitor kerja siswa untuk memastikan bahwa kegiatan mereka berjalan lancar.  Salah satu tujuan belajar kooperatif adalah mengajari siswa untuk bekerja sama. 

(3)     Tes
                  Tes dilaksanakan setelah siswa bekerja dan berlatih dalam kelompok.  Tes yang diberikan adalah tes/kuis perorangan.  Masing-masing siswa berusaha dan bertanggung jawab secara individual untuk melakukan yang terbaik sebagai hasil kerja kelompok.  Siswa harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberi sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok dan juga menjadi indikator perkembangan individu.
(4)     Skor Peningkatan Individu
                  Ide poin peningkatan individu adalah memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk meraih prestasi maksimal dan melakukan yang terbaik untuk diri dan kelompoknya.  Setiap siswa diberikan poin perkembangan yang ditentukan berdasarkan selisih perolehan skor kuis terdahulu (skor dasar) dengan skor kuis terakhir.  Dengan cara ini setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan skor maksimal bagi kelompoknya. 
(5)     Penghargaan Kelompok
                  Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan poin perkembangan kelompok yang diperoleh.  Untuk menentukan poin pencapaian kelompok digunakan rumus sebagai berikut.
(Slavin, 1995) (dalam Usman H.B, 2004:149)
         Nk =
                  Berdasarkan poin perkembangan yang diperoleh terdapat tiga tingkat-tingkat penghargaan yang diberikan untuk penghargaan kelompok yaitu:
   Kelompok dengan poin rata-rata 15, sebagai kelompok baik,
  Kelompok yang memperoleh poin rata-rata 20, sebagai kelompok hebat,
Kelompok yang memperoleh poin rata-rata 25, sebagai kelompok super.(http://xpresiriau.com/teroka/artikel-tulisan pendidikan/karakteristik-stad/)

      Menurut Kagan (Zainuddin, 2002:29) (dalam Daiyatushalihah, 2007:15) ada tiga keuntungan penggunaan STAD yaitu: (1) semua siswa memiliki kesempatan untuk menerima reward setelah menyelesaikan suatu materi pelajaran, (2) semua siswa mempunyai kemungkinan untuk mencapai hasil belajar yang tinggi, dan (3) reward yang diberikan kepada kelompok dapat digunakan untuk memberikan motivasi berprestasi kepada semua siswa.

D. TEORI-TEORI YANG BERKAITAN DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Suatu pembelajaran hendaknya dapat mendorong siswa untuk membuat hubungan dari apa yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan dunia nyata yang ada di lingkungannya.  Pendekatan kontekstual merupakan suatu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna.  Nurhadi & Senduk (2003:13) (dalam Daiyatushalihah, 2007:11) menyatakan bahwa:

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit- demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.



Terdapat teori-teori yang berkaitan dengan pembelajaran kontekstual, yaitu:
a.  Teori Perkembangan Intelektual Piaget
            Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkrit ke abstrak berurutan melalui empat periode.  Periode berpikir yang dikemukakan Piaget adalah sebagai berikut:
Periode sensori motor (0-2 tahun)
Periode pra-operasional (2-7 tahun)
Periode operasi konkrit (7-11 tahun)
Periode operasi formal (11 tahun keatas)
            Siswa kelas V SD pada umumnya berusia antara 10 – 11 tahun, sehingga menurut teori Piaget berada pada tahap operasi konkrit.  Hal ini sesuai dengan situasi pembelajaran kontekstual yang menghadirkan situasi dunia nyata dalam hal ini dapat berupa benda-benda konkrit maupun situasi konkrit yang ada di dunia siswa.  Sehingga siswa dapat belajar dan berpikir berdasarkan kemampuan intelektualnya.
            Menurut Piaget (Hudojo, 1988:47) (dalam Daiyatushalihah, 2007:16), struktur kognitif yang dimiliki seseorang itu karena proses asimilasi dan akomodasi.  Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang.  Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi.  Jadi belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja, tetapi juga terjadi penstrukturan kembali. 
b.      Teori Bruner
            Jerome Bruner (Hudojo, 1988:56) (dalam Daiyatushalihah, 2007:17) berpendapat bahwa belajar matematika ialah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan.  Lebih lanjut Bruner menjelaskan bahwa pemahaman terhadap konsep dan struktur sesuatu materi menjadikan materi itu dipahami secara lebih komprehensif.  Lebih dari itu, peserta didik lebih mudah mengingat materi itu bila yang dipelajari merupakan/mempunyai pola yang berstruktur.  Dengan memahami konsep dan struktur akan mempermudah terjadinya transfer.
            Menurut Bruner (Depdiknas, 2005:8) (dalam Daiyatushalihah, 2007:17), jika seseorang mempelajari sesuatu pengetahuan, pengetahuan itu perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut.  Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
    Tahap enaktif, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan dimana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda kongkrit atau menggunakan situasi yang nyata.
    Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual, gambar, atau diagram yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi nyata yang terdapat pada tahap enaktif.
   Tahap simbolik, yaitu suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal, lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
            Dalam pembelajaran kontekstual, ketika siswa diperhadapkan pada masalah yang berkaitan dengan dunia nyata di awal pembelajaran, berarti siswa melalui tahap pembelajaran enaktif.  Selanjutnya, siswa diminta untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan simbol-simbol matematika.  Pada tahap ini siswa berada pada tahap ikonik dan simbolik.
c.       Teori Bermakna Ausubel
            D.P. Ausubel (Hudojo, 1988:61) (dalam Daiyatushalihah, 2007:18) mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif.
            Menurut Ausubel, belajar bermakna timbul jika siswa mencoba menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya.  Jika pengetahuan baru tidak berhubungan dengan pengetahuan yang ada, maka pengetahuan baru itu akan dipelajari siswa melalui belajar hafalan.  Hal ini disebabkan pengetahuan yang baru tidak diasosiasikan dengan pengetahuan yang ada (Depdiknas, 2005:22) (dalam Daiyatushalihah, 2007:19).
            Pada pembelajaran kontekstual, guru perlu mengembangkan pengetahuan pra syarat siswa guna membentuk pemahaman awal siswa pada operasi hitung bilangan bulat.  Kemudian pemahaman awal tersebut diintegrasikan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan baru.

E. PENERAPAN KOMPONEN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran yang dibahas pada makalah ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual.  Pendekatan kontekstual ini memuat komponen-komponen utama yaitu konstruktivisme, bertanya, inquiry, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian autentik.  Berikut uraian penjelasan masing-masing komponen.
1.   Konstruktivisme
      Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa dengan cara mencoba memberi arti pada pengetahuan sesuai pengalamannya.  Konstruktivisme sudah muncul sejak awal pembelajaran pada saat guru menggali pengetahuan pra syarat siswa.  Karena guru mengajak siswa untuk menggali pengetahuan yang telah dimiliki dan membangunnya.
      Konstruktivisme juga muncul pada saat guru menyajikan materi.  Selain itu, konstruktivisme juga muncul pada saat siswa bekerja dalam kelompok belajarnya masing-masing.  Dengan demikian jelas bahwa pada kegiatan pembelajaran komponen konstruktivisme telah diterapkan.
2.   Bertanya
      Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan dan aspek penting dari pembelajaran.  Komponen bertanya ini diterapkan oleh peneliti mulai dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.  Selain itu, bertanya merupakan awal dari kegiatan inquiry.  Dalam sebuah pembelajaran, kegiatan bertanya berguna untuk: menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, memecahkan persoalan yang dihadapi, membangkitkan respon kepada siswa, mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, mengetahui hal-hal yang sudah diketahui oleh siswa, memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
3.   Inquiry
      Kegiatan inquiry merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.  Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
      Pada sat pembelajaran, peneliti menerapkan komponen inquiry mulai pada saat menyajikan materi pelajaran dan pada saat siswa bekerja dalam kelompok belajarnya masing-masing.
4.   Masyarakat Belajar
      Dalam masyarakat belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerja sama dengan orang lain.  Pada penelitian ini jelas bahwa peneliti menerapkan komponen masyarakat belajar ini karena model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD.  Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen.  Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, dan seterusnya.
      Masyarakat belajar ini bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah.  Oleh karena itu, guru harus selalu mengawasi dan memonitoring kerja siswa dalam kelompok agar tidak terdapat dominasi beberapa orang siswa.
5.   Pemodelan
      Komponen pembelajaran kontekstual selanjutnya adalah pemodelan.  Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.  Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar.  Pada sat pembelajaran berlangsung, peneliti menyediakan model berupa guru sendiri, siswa dan benda-benda yang telah disiapkan oleh guru yaitu gula-gula.  Kegiatan pemodelan ini terjadi pada saat fase 1 penyajian kelas.  Penggunaan model dari benda-benda kongkrit ini sejalan dengan teori belajar Bruner yang menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran dimulai pada tahap enaktif dimana pengetahuan diperoleh secara aktif melalui benda-benda kongkrit.
6.   Refleksi
      Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu.  Kegiatan refleksi ini telah diterapkan oleh peneliti pada awal pembelajaran yaitu pada saat guru menggali pengetahuan pra syarat siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya.  Sehingga diharapkan siswa dapat memperoleh hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru.
7.   Penilaian Autentik
      Kegiatan penilaian merupakan pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.  Kegiatan penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.  Sehingga bukan hanya hasil belajar yang dinilai tapi juga prosesnya.  Instrumen penilaian yang digunakan berupa tes, observasi, wawancara, lembar penilaian minat dan sikap serta lembar penilaian diri.  Melalui instrumen penilaian yang bervariasi tersebut, bentuk penilaian tidak hanya terfokus pada penilaian ranah kognitif tapi juga penilaian ranah afektif dan psikomotor.





Berikut ini adalah skema Tindakan Pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu:
Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Komponen Pembelajaran Kontekstual

Kegiatan Awal
1.  Menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.  Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan pra syarat siswa

Memperhatikan penjelasan guru

Menjawab pertanyaan guru atau bertanya


● Konstruktivisme
Refleksi
● Bertanya
1.   Penyajian kelas

Kegiatan Inti
1.  Menyajikan materi pelajaran dan memberikan contoh penerapan prinsip kerja model siswa untuk menyelesaikan operasi hitung bilangan bulat.
2.  Memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan siswa dalam kelompok belajarnya.
3.  Mengontrol pemahaman siswa dengan mengajukan pertanyaan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.

Mendengarkan penjelasan guru













Menjawab pertanyaan atau bertanya

Konstruktivisme

Pemodelan












Bertanya
2. Transisi ke Tim

4.   Membagi siswa ke dalam kelompok belajar



5.   Membagi LKS kepada setiap kelompok
Mencatat nama-nama kelompok dan bergabung dengan kelompoknya masing-masing
Menerima LKS
Masyarakat belajar
3. Tim Studi dan Monitoring

6.   Meminta siswa untuk berdiskusi dengan rekan dalam kelompoknya untuk menyelesaikan soal yang ada di LKS dan guru berjalan mengelilingi siswa untuk memonitor pekerjaan siswa dan jika terdapat masalah, guru memberikan bantuan seperlunya yang sifatnya mengarahkan.
Berdiskusi dengan teman kelompok dan meminta bantuan kepada guru jika mengalami kesulitan
● Masyarakat belajar

● Bertanya
● Penilaian autentik


Inquiry
4. Pengujian
7.   Memberikan tes individu kepada siswa
Mengerjakan tes yang diberikan
Penilaian autentik

Kegiatan Penutup
Memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik




            Indikator keberhasilan tindakan pembelajaran pada setiap siklus yang dilaksanakan pada penelitian ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas siswa dan poin peningkatan individu minimal siswa yaitu 20.
Adapun untuk menentukan poin peningkatan individu didasarkan pada selisih antara skor pada tes akhir dengan skor dasar pada tes awal.  Slavin (dalam Usman H.B., 2004:146) memberikan kriteria pemberian skor sebagai berikut.

Tabel 3.2  Kriteria Pemberian Poin
Skor Siswa
Poin Perkembangan
Lebih dari sepuluh poin di bawah skor dasar
5
10 poin hingga 1 poin di bawah skor dasar
10
Skor dasar sampai 10 poin diatasnya
20
Leboh 10 poin di atas skor dasar
30
Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
30



BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan pada makalah ini adalah:
1. Pembelajaran kooperatif adalah sebuah pendekatan yang melibatkan sebuah grup kecil dari pembelajar yang bekerja bersama-sama sebagai sebuah tim untuk memecahkan sebuah masalah, melengkapi sebuah tigas, atau mencapai tujuan umum.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model yang bersifat umum, sehingga dapat digunakan untuk bidang studi dan semua tingkatan, serta merupakan model yang paling sederhana dan mudah dilaksanakan.
3. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri 5 komponen utama, yaitu:
a)      Penyajian kelas
b)       Belajar kelompok
c)      Tes
d)     Skor peningkatan individu
e)      Penghargaan kelompok
4. Adapun teori-teori yang berkaitan dengan pembelajaran kontekstual adalah:
a)      Teori Perkembangan Intelektual Piaget
b)      Teori Bruner
c)      Teori Bermakna Ausubel
5. Beberapa komponen pembelajaran kontekstual, yaitu:
a)      Konstruktivisme
b)      Bertanya
c)      Inquiry
d)     Masyarakat Belajar
e)      Pemodelan
f)       Refleksi
g)      Penilaian Autentik

B. SARAN
Semoga makalah yang telah tersusun rapi ini tidak hanya menjadi sekedar obyek pelengkap nilai akademik saja, diharapkan sekiranya orang-orang dapat belajar banyak tentang pembelajaran kooperatif dari makalah ini terutama pembelajaran kooperatif tipe STAD dan mampu menerapkannya setiap kali melakukan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, Sutrisni. 2007. STAD dalam Matematika:Penerapan Kooperatif Teknik “STAD” dalam Pembelajaran Matematika. (Online). (http://trisnimath.blogspot.com/, diakses 24 Februari 2010)

Daiyatushalihah. 2007. Meningkatkan Pemahaman siswa Kelas V SD Inpres I Besusu pada Operasi Hitung Bilangan Bulat melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Pendekatan Kontekstual. Skripsi tidak diterbitkan. Palu Program Pascasarjana Universitas Tadulako Palu.

Herdian. 2009. Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division). (Online).  (http://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-stad-student-teams-achievement-division/, diakses 22 Februari 2010).

Hidayat. 2009. Karakteristik STAD. (Online). (http://expresiriau.com/teroka/artikel-tulisan-pendidikan/karakteristik-stad/, diakses 22 Februari 2010).
Johnson, David W, dkk. Cooperative Learning Methods: A Meta-Analysis. (Online). (http://www.co-operation.org/pages/cl-methods.html, diakses 22 Februari 2010)

Usman H. B. 2004. Strategi Pembelajaran Kontenmporer suatu Pendekatan Model. Cisarua:Tadulako University Press.

Widyantini Th. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan kooperatif. Yogyakarta Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika Yogyakarta.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar